Memimpin Secara Kreatif

Oleh : Yani Adyawardhani (Ketua Program Studi Bahasa Inggris)

Keberhasilan pengembangan suatu organisasi tidak terlepas dari usaha pemimpin yang memberikan banyak kesempatan kepada para anggotanya untuk berkembang dan berkreatif dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Kasus klasik keberhasilan suatu organisasi bisnis adalah perusahaan 3M di Amerika Serikat, yang memberikan kebebasan berinovasi kepada para karyawannya. Saat ini, sebagian besar perkantoran dan sekolah sudah mengenal dan menggunakan kertas tempel yang pada permukaan belakangnya mengandung sedikit perekat yang tidak lengket (sticky notes). Orang menuliskan pesan singkat di atasnya dan ditempelkan di manapun orang memerlukannya. Jenis perekat yang melapisi bagian belakang kertas ini adalah salah satu produk ‘gagal’ karyawan bagian R&D perusahaan 3M, dan dengan kebebasan berkreatifitasnya karyawan tersebut melanjutkan penelitiannya sehingga akhirnya ditemukan manfaat lain. Kreatifitas telah menjadi salah satu alat penting dalam kesuksesan, namun kreatifitas tidak terjadi begitu saja dalam suatu organisasi, seorang pimpinan harus menciptakan lingkungan yang kondusif agar karyawannya dapat merasa nyaman dalam berkarya dan apa yang dilakukannya benar-benar berharga.

Kreatifitas adalah darah segar yang menjadi inti hidup suatu organisasi. Hal ini dikemukakan oleh Judith A. Ross dalam artikel pendeknya “Creative Leadership: Be your team’s chief innovation officer” dalam harian The Jakarta Post, hari Rabu 28 Maret 2007. Edisi koran tersebut mungkin saja sudah lama, namun informasinya masih tetap relevan hingga saat ini selama masih terdapat organisasi yang terdiri dari kumpulan orang dan dipimpin oleh orang. Judith Ross adalah seorang penulis freelance tentang binis yang tinggal di Concord, Massachusets, Amerika Serikat. Lebih jauh Ross mengatakan bahwa kreatifitas mendorong inovasi yang merangsang pertumbuhan organisasi dan memperluas serta merevitalisasi proses-proses organisasi. Namun, Ross mengatakan selanjutnya bahwa kreatifitas tidak terjadi begitu saja dan tanpa lingkungan yang mendukung. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada kaitan antara karakteristik dari suatu lingkungan kerja dengan kualitas dari kreatifitas dalam memecahkan masalah dalam organisasi itu.

Sebagai seorang pimpinan, apakah ketua tim kecil atau pemimpin organisasi besar, anda mampu dan mempunyai kekuatan untuk mendorong atau bahkan menguras semua kemampuan anggota tim atau orang yang bekerja di bawah anda untuk mampu berpikir secara kreatif. Namun, bagaimanakah caranya untuk menciptakan suasana kerja yang mendorong timbulnya ide-ide baru yang segar dari karyawan atau orang-orang yang bekerja dengan kita sehingga ide-ide itu dapat berkembang menjadi suatu inovasi yang pada akhirnya dapat memberikan nilai tambah kepada unit/bagian kerja kita?

Menciptakan kondisi yang kondusif

Para peneliti dan praktisi bidang manajemen setuju bahwa banyak yang bisa dilakukan oleh para pimpinan. Namun, agar dapat mendorong karyawan atau orang yang bekerja dengan kita, pimpinan unit/bagian atau kelompok kerja dapat memfokuskan usahanya pada hal-hal berikut ini:

Pertama, buat tujuan pekerjaan/unit/bagian dengan jelas, kemudian beri kesempatan seluas-luasnya kepada karyawan atau orang yang bekerja dengan kita untuk mencapai tujuan tersebut dengan caranya masing-masing. Untuk ini, tujuan perlu dijabarkan dalam bentuk tujuan-tujuan yang lebih spesifik dan jangka pendek yang jelas sehingga dapat dimengerti oleh semua orang yang terlibat. Tetapi, harus hati-hati agar jangan terlalu spesifik sehingga berkesan mendiktekan jalan yang harus ditempuh. Untuk memperkuat hal ini Ross mengutip pendapat Teresa Amabile, seorang professor administrasi bisnis di Harvard Business School dan juga seorang ahli tentang kreatifitas, yang mengatakan bahwa tujuan harus dibuat seluas mungkin untuk memberi kemungkinan kepada semua orang yang terlibat untuk mendapatkan jalannya masing-masing, sehingga kemungkinan besar dapat menemukan produk atau cara kerja baru yang lebih baik.

Kedua, monitor pekerjaan karyawan atau orang yang bekerja dengan kita, pada jarak yang cukup jauh. Pada saat karyawan atau orang yang bekerja dengan kita menjalankan tugas dan pekerjaannya masing-masing, pimpinan perlu memonitor kemajuan pekerjaan mereka, namun dilakukan pada jarak yang tidak mengganggu mereka; atau dalam kondisi yang tidak membuat mereka merasa diawasi. Mengelola secara mikro (micromanaging) menghancurkan kepercayaan diri dan motivasi intrinsik karyawan. Dan pada akhirnya mematikan kreatifitas dan kemampuan berinovasi. Tunjukkan pada karyawan bahwa kita sangat tertarik oleh apa yang dikerjakannya, berikan kritik dan saran yang konstruktif, tunjukkan apresiasi terhadap kerja keras dan hasil baik yang dibuatnya. Ketidakmampuan untuk menunjukkan apresiasi akan berakibat pada demotivasi karyawan, yang pada akhirnya dapat merugikan.

Ketiga, berikan fasilitasi sebanyak mungkin pada karyawan. Fasilitas yang dimaksud tidak hanya berupa fasilitas fisik saja, tetapi juga berupa dukungan, keberadaan dan waktu yang mudah dihubungi atau dicapai oleh mereka pada saat mereka membutuhkan bantuan atau petunjuk dalam pekerjaannya. Berikan dukungan sejauh dan semampu yang dapat diberikan, dengan demikian pimpinan membantu meningkatkan dan mendorong motivasi karyawan yang positif dan pada akhirnya meningkatkan kreatifitas. Selain itu fasilitasi yang diberikan dapat berupa “menjual” hasil karya karyawan yang baik kepada pihak lain di dalam institusi, membantu mencarikan informasi yang dibutuhkan, atau membantu menghilangkan hambatan pada saat proses kerja. Semua bantuan ini dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan kerja.

Keempat, ciptakan proses-proses pencarian dan penilaian ide-ide yang bermanfaat. Dua kegiatan ini sangat penting dalam proses inovasi. Tetapi kedua proses ini jangan dilakukan pada saat yang bersamaan jika ingin mendapatkan hasil yang diharapkan. Ross mengemukakan pendapat Profesor Gerard Puccio, Direktur dari International Center for Studies in Creativity di Buffalo State College, State University of New York, yang menyusun kerangka bagi pemimpin dan anggota timnya untuk mengembangkan dan menilai ide-ide di dalam kelompoknya.

Mengembangkan dan mengevaluasi ide

Puccio, seperti yang diungkapkan oleh Ross, menyebutkan ada tiga langkah dalam mengembangkan ide, dan dua langkah dalam menilai ide yangsudah dikembangkan.

Untuk mengembangkan ide:

Pertama, pisahkan proses pengembangan ide dari penilaian ide. Sering banyak ide terlontar pada saat tim rapat bersama, namun pada saat yang sama anggota rapat menilai ide-ide tersebut dan dalam banyak kasus banyak ide pula yang dibuang dalam rapat seperti itu karena dianggap kurang baik atau sesuai. Namun, ternyata setelah waktu berjalan dan proses kerja berlangsung ternyata ide yang dilontarkan terdahulu itu ada manfaat dan bahkan bisa lebih baik.

Kedua, kembangkanlah ide sebanyak-banyaknya. Jika kita memiliki koleksi ide yang cukup banyak, beberapa diantaranya mungkin akan menjadi jalankeluar dari masalah yang sedang kita hadapi. Menurut penelitian, Ross mengemukakan lebih jauh, bahwa ide yang paling inovatif muncul setelah banyak ide-ide lain dikemukakan dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Ketiga, cari dan kembangkan keterkaitan diantara ide-ide tersebut , juga keterkaitannya dalam konteks. Ide-ide yang dikembangkan dengan saling terkait atau mendukung ataupun dikembangkan dalam suatu konteks tertentu akan lebih fleksibel dalam pemecahan berbagai masalah atau akan mendorong saling-silang acuan antara satu ide dengan yang lainnya.

Jika ide-ide sudah dikembangkan pada tahap selanjutnya dilakukan penilaian terhadap ide-ide tersebut.

Langkah-langkah berikut ini dapat dipertimbangkan dalam menilai ide-ide yang sudah terkumpul:

Pertama, dalam menilai gunakan sudut pandang yang positif. Ketika harus memilih suatu opsi jangan hanya melihat dari kelemahan dan kekurangannya saja. Kelemahan dalam suatu ide jika diatasi mungkin saja dapat menjadi ide yang lebih baik dari yang ada.

Kedua, periksa objektif. Tetapkan kriteria yang jelas untuk pencapaian objektif, misalnya jumlah anggaran atau batas waktu pelaksanaan. Pada saat menilai pilihan yang tersedia pikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pilihan ini dapat membantu memberikan kepuasan kepada pelanggan atau pihak yang kita layani? Apakah anggaran yang sudah ditetapkan cukup untuk melaksanakan pilihan ide ini? Jawaban dari pertanyaan semacam ini adalah bentuk penghalusan dari ide yang kita pilih selain merupakan arah dalam mengembangkan ide tersebut lebih jauh. Dengan demikian ide yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan kriteria yang kita inginkan sekaligus kondisi anggaran yang tersedia tanpa harus mengorbankan ide-ide baik yang mungkin muncul dari orang-orang yang bekerja bersama kita.

Sangat besar kemungkinan bahwa orang-orang yang bekerja sama dengan kita mempunyai pengetahuan dan keterampilan tinggi, fleksibilitas dalam mengembangkan kreatifitas untuk berinovasi baik dalam produk maupun proses. Namun, tugas seorang pemimpin adalah memberikan kepada orang-orang tersebut alat serta membuat lingkungan yang kondusif yang memungkinkan mereka untuk bekerja dengan idenya tersebut.***

0 Responses to “Memimpin Secara Kreatif”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: